Kaum ibu adalah tumpuan harapan yang melahirkan generasi masa depan. Ibulah yang berperan meletakkan karakter dasar anak. Keberhasilan peran ibu menentukan kematangan jiwa anak yang akan berpengaruh pada kemampuan menghadapi masalah dan menyelesaikannya ketika dewasa.
Namun seiring globalisasi di seluruh dunia, rumah tangga bukan lagi institusi yang eksklusif. Di berbagai pelosok negri, di desa-desa, rumah-rumah tangga mendapat serangan Budaya kufur dari segala sisi. Mulai dari makanan, minuman, pakaian hingga barang-barang konsumtif lainnya telah terjajakan tanpa ada batas-batas wilayah. Kondisi ini turut memberi warna pada keluarga-keluarga muslim. Bukan hanya itu produk yang ditawarkan , malah seiring juga dengan penerimaan terhadap pola berpikir dan gaya hidup yang disampaikan melalui majalah, surat kabar, radio, tayangan televisi dan internet. Bahkan melalui internet,siapapun bisa mengakses mulai dari informasi hingga pornografi. Serangan budaya kapitalis liberal telah menyentuh semua ruang kehidupan keluarga. Ibu dan anak, sadar atau tidak sadar telah menjadi korban.
Masih membekas di ingatan kita, merebaknya kasus cidera akibat mencontek adegan Smack Down oleh anak-anak. Kasus pembunuhan teman yang dilakukan anak SD. Bahkan dilakukan dengan sangat sadis. Perkosaan yang dilakukan beberapa pelajar kepada teman sekelasnya. Sampai adegan mesum yang dilakukan pelajar yang diabadikan via kamera HP . Semua itu adalah potret buruk generasi kita saat ini. Bukan salah benda yang bernama televisi atau HP. Tapi mengapa tayangan televisi kita kebanyakan mengumbar kekerasan dan seks bebas? Mengapa anak kita bisa tidak terkontrol dalam aktifitas kesehariannnya? Mengapa sesudah kejadian baru orangtua , guru, media, bahkan pemerintah baru meributkannya? Ibarat kata iklan, kalo nggak kotor ya nggak belajar …mungkin lafaz ini yang cocok untuk menggambarkan suasana tidak ngeh-nya kita semua sebelum peristiwa terjadi.
Bahkan tanpa kita sadari ada upaya sosialisasi ide sekuler liberal dan legalisasi via undang-undang. Misalnya ide Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) . Atau yang dalam bentuk undang-undang , contohnya UU PKDRT ( UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga) adalah contoh kongkrit sempurnanya kekuasaan dan cengkeraman penjajah di negri ini. Yang paling rentan dijadikan sasaran tembak adalah ibu dan anak!
Kalau kita cermati ide KKG , telah menjadi alat ampuh untuk menghancurkan keluarga-keluarga muslim. Tatanan keluarga yang menempatkan laki-laki sebagai qowwam digugat dan perempuan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga didemo. Karena posisi seperti ini menomorduakan perempuan, kata para aktifis perempuan. Bahkan menghilangkan peluang perempuan untuk berkiprah di sektor publik, dan meraih posisi terhormat di masyarakat. Saat ini bisa dirasakan, dengan kondisi lingkungan yang rusak (merebaknya narkoba, seks bebas, pornografi dll), kurangnya penanaman agama sejak dini, sibuknya kedua orangtua (bahkan cenderung saling lempar tanggung jawab antara ayah dan ibu) telah memberi andil yang sangat besar terhadap hancurnya keluarga, lemahnya generasi muslim dan kerusakan prilaku masyarakat.
Terhadap UU PKDRT pun bisa kita cermati kenyataan yang sama. Dari definisi kekerasannya saja sudah terbaca, yang dimaui oleh pembuat UU itu apa? Yaitu menjauhkan umat Islam dari keterikatannya terhadap Syariat Islam. Hukum syara’ semisal sunnat perempuan, dan yang sempat ramai dibicarakan …kasus poligami, dianggap kekerasan. Keharusan istri melayani suami, dianggap pemaksaan. Para perempuan dipaksa untuk meng”iya”kan bahwa memang telah terjadi KDRT itu. Jadi kaum muslimah, bahkan semua muslim diajak untuk menerima definisi yang menyimpang dari Syara’ tentang kekerasan/kriminal. Padahal dalam Islam, sunat bagi anak perempuan/laki-laki adalah hukum syara’. Poligami adalah mubah/boleh. Ketaatan istri pada suami adalah wajib (selama tidak melanggar hukum Allah). Akhirnya semakin banyak istri-istri yang jadi pembangkang. Para suami yang semakin beringas. Anak-anak yang menjadi kacau kepribadiannya karena broken home dan tidak punya teladan di rumah. Tidak adalagi baiti jannati bagi ayah, ibu dan anak-anak.
Parahnya, persoalan tadi masih ditambah dengan tidak perdulinya kaum muslimin dengan persoalan ini, karena menganggap …akh itu urusan pribadi orang! Betul-betul membuat masalah seolah tak berujung. Apa yang kita bisa perbuat untuk menyelamatkan generasi masa depan, juga kaum ibu dari upaya sistematis para penjajah untuk menjauhkan kita dari ISLAM ???
Untuk menangkal semua ini dapat dilakukan dengan (1) Membangkitkan kesadaran umat bahwa saat ini telah terjadi liberalisasi kapitalis, (2) mengungkap isu-isu, misal KKG, adalah upaya musuh untuk menghancurkan institusi keluarga dan masyarakat muslim, (3) Membina kaum muslimin agar memiliki pemahaman Islam yang benar sehingga tidak terperdaya (4) Mengembalikan perempuan kepada fungsi utamanya yakni ibu dan pengelola rumahtangga, (5) Melakukan pemberdayaan perempuan yang didasarkan pada visi: “ Menjadi perempuan unggul sebagai ummu wa robbatul baiti , sebagai mitra laki-laki demi melahirkan generasi cerdas, taqwa, pejuang syariah dan khilafah serta kesakinahan rumah tangga”. []
Filed under: SEPUTAR ISLAM
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Dalam rangka menghempang pluralisme dan kapitalisme, kami berniat membangun Sentra dakwah di Sumatera Utara tepatnya di Kota medan di atas lahan seluas Dua Hektar, mohon Dukungan semua Pihak. http://www.sentradakwah-hidayatullah.blogspot.com/